Mengenal Suku Polahi Lebih Akrab – Tradisi & Keyakinan

Suku Polahi tergolong sebagai salah satu dari sekian banyak suku terasing di Indonesia. Masyarakat Polahi tinggal di kawasan pedalaman hutan Sulawesi, tepatnya di pedalaman hutan Boliyohuto, Paguyaman, dan Suwawa di Provinsi Gorontalo.


Untuk mendapatkan keberadaannya, maka diharapkan waktu cukup panjang untuk berjalan menyusuri hutan yang rapat. Suku Polahi tinggal di daerah yang cukup terasing, sehingga dibutuhkan waktu yang cukup usang untuk mampu mencapainya.


Kehidupan suku Polahi masih sungguh sederhana. Sebab, tempat tinggalnya cukup terpencil dan sungguh jauh dari hiruk pikuk. Bahkan beberapa orang menyebutkan bahwa kehidupan suku ini cenderung masih primitif.



Asal Usul dan Sejarah Suku Polahi


Konon, orang-orang Polahi berasal dari sekumpulan orang yang melaksanakan pelarian ke pedalaman hutan pada zaman pemerintahan Belanda di Indonesia. Warga suku Polahi melarikan diri agar terhindar dari penjajahan Belanda. Selain itu, warga Polahi melaksanakan pelarian dengan tujuan untuk menghindari membayar pajak.


Diketahui bahwa jumlah orang Polahi berjumlah kurang lebih 500 orang. Dari jumlah tersebut, diperkirakan sebanyak 200 orang menetap di Paguyaman, sedangkan 300 orang menetap di Suwawa.


Karena tempat tinggalnya berada di pedalaman hutan yang terpencil, maka sudah dipastikan bahwa tingkat pendidikan masyarakat masih rendah. Tempat tinggal suku Polahi yang terpencil tersebut membuat warganya mengalami keterbelakangan karena tidak menerima pendidikan formal yang layak.







Jika dilihat dari struktur fisiknya, orang dari Suku Polagi diduga berasal dari tempat Maluku. Suku Polahi memiliki struktur fisik yang serupa dengan ras Polynesia dan mirip dengan orang-orang Maluku. Orang Polahi mempunyai tubuh yang kekar dan mempunyai rambut yang berjenis ikal atau keriting.


Diperkirakan pada kala lalu, beberapa orang Maluku melarikan diri dari Belanda dengan cara menyeberangi bahari hingga melintasi aneka macam pulau. Orang-orang Maluku tersebut melintas melalui Ternate dan jadinya mendarat di daratan Gorontalo. Setelah mendarat di Gorontalo, maka orang-orang tersebut mendirikan pemukiman.


Beberapa lama lalu, datanglah kolonial Belanda yang kemudian kian mendesak keberadaan orang-orang Maluku tersebut sampai mereka masuk ke pedalaman hutan dan mengisolasi warganya sampai dengan saat ini.


Inilah asal-ajakan dari Suku Polahi yang kemudian hidup dan menetap di pedalaman hutan dalam golongan-kelompok kecil.


Tradisi Inses / Perkawinan Sedarah


Kehidupan para penduduk suku Polahi diwarnai pula dengan adanya tradisi atau kebudayaan yang bersifat kontroversial. Bahkan, hingga kini ini tradisi kontroversial tersebut masih sering dikerjakan.


Tradisi ini adalah tradisi inses atau perkawinan sedarah. Inses atau perkawinan sedarah oleh pada umumnya orang memang dianggap selaku hal tabu dan bahkan menjadi malu bagi siapapun. Namun, ternyata inses atau perkawinan sedarah ini kerap dijalankan oleh masyarakat Polahi.


Perkawinan antara ibu dan anak, atau ayah dan anak, serta perkawinan antara para saudara kandung telah menjadi hal yang umum dijalankan oleh warga suku ini. Perkawinan sedarah dianggap wajar dan lazimsaja bagi warga suku Polahi.


Inses atau perkawinan sedarah bahu-membahu dihentikan baik dari sudut pandang agama maupun karena alasan medis. Menurut medis, perkawinan sedarah mampu menghasilkan keturunan yang cenderung cacat. Anak hasil dari perkawinan sedarah disangka akan mengalami beberapa kelainan baik secara fisik maupun mental. Namun anehnya, hal ini tidak pernah ditemui pada Suku Polahi.


Anak-anak yang lahir dari perkawinan sedarah tetap lahir dalam kondisi normal dan tidak memiliki cacat sama sekali. Anak-anak mereka juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang bagus.


Tradisi inses sebenarnya terjadi semenjak adanya pendudukan Belanda di Indonesia. Pemerintahan Belanda di Indonesia menciptakan Suku Polahi melarikan diri sampai ke dalam hutan. Mereka pergi ke hutan untuk bersembunyi hingga jadinya terisolasi.




inses suku polahi



Dengan jumlah penduduk yang sedikit ini, mereka melakukan perkawinan dengan keluarga pada dasarnya sendiri untuk mendapatkan dan mempertahankan keturunan. Hal inilah yang menjadi tradisi bebuyutan bagi warga suku Polahi.


Keyakinan dan Kepercayaan


Keunikan lain dari suku Polahi ialah pada doktrin yang dimilikinya. Masyarakat Polahi memiliki tiga Tuhan yang disembah. Walaupun mereka mempunyai tiga Tuhan tetapi keberadaan tiga Tuhan tersebut tidak pernah menjadi problem atau perdebatan bagi warganya. Suku Polahi justru selalu patuh dan taat pada tiga Tuhan tersebut.


Sosok Tuhan yang pertama bagi penduduk Polahi ialah Pulohuta. Sosok ini digambarkan sebagai sosok yang hidup dan berkuasa atas tanah. Oleh alasannya adalah itu orang Polahi senantiasa melaksanakan hal semacam ritual doa untuk meminta izin pada Pulohuta sebelum membuka lahan.


Suku Polahi memang suka melaksanakan aktivitas berkebun, oleh karena itu mereka selalu memerlukan lahan. Pembukaan lahan untuk berkebun akan diawali dengan doa permohonan izin pada Pulohuta supaya apa yang dijalankan oleh suku ini mampu menjadi berkah dan selamat.


Sedangkan Tuhan yang kedua dinamakan Lati. Berbeda dengan Pulohuta yang diyakini berkuasa atas tanah, Lati diyakini mendiami pepohonan. Lati digambarkan selaku sosok makhluk-makhluk kecil yang ada di dalam pepohonan.


Hal ini menjadikan Suku Polahi senantiasa melakukan semacam ritual untuk menghalau Lati dari pohon yang hendak ditebang. Jika orang Polahi ingin menebang pohon maka sebelumnya mereka akan membakar menyan sambil mengucapkan beberapa mantra untuk menghalau Lati dari pohon yang dijadikan selaku daerah tinggalnya.


Kemudian Tuhan yang ketiga adalah Lausala. Lausala digambarkan sebagai sosok makhluk yang senantiasa memiliki keinginan untuk membunuh warga Polahi. Lausala digambarkan sebagai sosok yang seolah haus akan darah. Padahal bekerjsama warga suku Polahi ini belum pernah bertemu secara langsung dengan Lausala.


Kepercayaan tentang tiga Tuhan ini memang tampak unik. Namun keberadaan tiga Tuhan ini tidak pernah menjadi problem bagi warga dan tidak pernah menciptakan warga menjadi bertikai.


Orang Polahi memang hidup di tempat terpencil dan condong mengalami keterbelakangan alasannya adalah jauh dari pertumbuhan. Namun untuk saat ini, warga Polahi sudah mulai berbaur dengan masyarakat tempat lain. Terutama warga Polahi yang tinggal dan menetap di tempat Asparaga.


Setidaknya warga suku Polahi dikala ini sudah mulai berkomunikasi dengan masyarakat desa lain yang letaknya dekat dengan daerah pemukiman mereka. Mereka berharap agar pemerintah dapat mendapatkan eksistensi mereka seperti suku yang lainnya.


Mereka juga berharap biar pemerintah dapat melindungi dan memperlakukan mereka dengan layak dan manusiawi. Kehidupan Suku Polahi kini makin berkembang dan mulai meninggalkan tradisi lama dan iktikad lamanya.

0 Response to "Mengenal Suku Polahi Lebih Akrab – Tradisi & Keyakinan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel